Connect with us
Euphoria Special Episode Review
Photo: Eddy Chen/HBO

TV

Euphoria Special Episode Review

Lebih dalam membahas isu adiksi dan transgender secara personal.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Merilis season pertamanya pada tahun 2019, “Euphoria” langsung menjadi serial drama remaja paling ikonik untuk Generasi Z. Tidak hanya ceritanya yang sesuai dengan realita gaya hidup remaja masa kini, serial HBO ini memiliki desain produksi yang artistik; menjadi simbol sempurna akan dunia remaja yang semarak dengan segala warna meski dengan kelabilan emosi serta fase depresi yang melingkupinya.

Tak kunjung merilis season terbaru yang pastinya sudah dinanti-nanti oleh penggemarnya, A24 menjadi rumah produksi yang memberikan hadiah natal pada penggemar “Euphoria” dengan merilis dua episode spesial pada Desember 2020 lalu. Mulai dari ‘Part 1: Rue, Trouble Don’t Always Last’ dan ‘Part 2: Jules, F*ck Anyone Who’s Not a Sea Blob’.

Euphoria Special Episode Review

HBO

Sebagai episode spesial, dua episode terbaru dari “Euphoria” kali ini memang menyuguhkan kisah sekaligus produksi yang berbeda dari trademark serial season perdananya. Keduanya episode memiliki pengarahan yang lebih cinematic seperti film. Tak ada lagi voice over dari Rue sebagai narator kita. Sinematografi yang dipilih juga lebih minimalis dan tidak sedinamis biasanya, namun masih mempertahankan palette warna yang sama agar tidak terlalu kontras dengan identitas “Euphoria”.

Part 1: Rue, Trouble Don’t Always Last

‘Trouble Don’t Always Last’ merupakan episode pertama yang disutradarai dan ditulis oleh oleh Sam Levinson. Berlatar di sebuah restoran yang sudah tidak asing lagi bagi kita, dimana Ali (Colman Domingo) dan Rue (Zendaya) kerap menghabiskan waktu bersama.

Kali ini keduanya menghabiskan malam natal bersama dengan membahas masalah ketergantungan obat terlarang pada Rue yang belum juga berakhir. Meski sepanjang episode kita hanya berada di satu lokasi, percakapan antara Ali dan Rue sangat menarik untuk diikuti, yaitu tentang perjuangan untuk sembuh dari ketergantungan.

Rue, Trouble Don’t Always Last

HBO

Dengan Rue sebagai subjeknya, dimana dirinya adalah seorang remaja 17 tahun yang masih labil, Ali menjadi mediator yang membantunya untuk menemukan alasan paling mendasar mengapa dirinya harus memberikan usaha lebih untuk sembuh.

Buat kita penggemar film atau serial dengan dialog yang mendalam tentang kehidupan, ‘Trouble Don’t Always Last’ dijamin akan sangat menghibur dan cukup menambah asupan akan filosofi kehidupan. Dialog yang didukung dengan akting otentik dari kedua karakter membuat episode satu ini memiliki naskah yang berbobot dan kaya materi, serupa dengan film yang menitik beratkan pada dialog seperti ‘Before Trilogy’ atau “My Dinner with Andre” (1981).

Part 2: Jules, F*ck Anyone Who’s Not a Sea Blob

Untuk episode kedua, masih disutradarai oleh Sam Levinson, Ia mengajak aktris Hunter Schafer ikut ambil bagian dalam penulisan naskah. Kali ini kita akan menyimak sesi Jules dengan terapis barunya. Dimana Ia mengungkapkan segala pemikiran tentang dirinya yang bermetamorfosis sebagai perempuan, pengalaman seksualnya di dunia maya, hingga hubungannya dengan Rue dan ibunya.

Konsepnya masih serupa dengan episode pertama; dialog yang padat, berlokasi sebagian besar di satu tempat, dan karakter utama sebagai subjek pembicaraan. Berbeda dengan Ali dan Rue yang melakukan percakapan dua arah (dengan porsi komentar yang seimbang), Jules lebih banyak membuka dirinya dihadapan terapis yang lebih berperan sebagai pendengar dan observator.

Berbeda dengan Rue yang hanya memiliki satu problem jelas, yaitu adiksi, Jules merupakan karakter dengan kepribadian dan problematika yang lebih kompleks. Hal tersebut pun melahirkan episode yang lebih intens dalam segi narasi dan produksi secara visual, kembali ke ciri khas “Euphoria” dengan sinematografi yang dinamis dan dramatis.

Jules, F*ck Anyone Who’s Not a Sea Blob

HBO

Sebagai seorang transgender, Hunter Schafer menampilkan akting yang otentik, terutama dalam pendalaman naskah dimana ada sebagian dari dirinya tertuang secara indah di dalamnya. Seperti syair, ada nilai tentang feminisme dan perumpamaan akan laut yang sama sekali tidak klise, membentuk naskah yang memukau sebagai presentasi tokoh Jules yang dari awal sangat dreamy dan quirky bagi kita.

Kualitas akting yang Hunter tampilkan dalam episode spesial ini membuat kita berharap aktris berpotensi satu ini mencoba project lain di luar “Euphoria”, mungkin serial baru atau bahkan film. Sayangnya, aktris atau aktor transgender masih jarang mendapatkan project yang lepas dari latar belakangnya.

Pada akhirnya, kedua episode spesial “Euphoria” ini memiliki kesinambungan cerita satu sama lain, baik secara plot peristiwa maupun isu dari masing-masing karakter utama, Rue dan Jules. Namun yang terpenting, kedua episode telah memiliki porsi yang pas dalam membahas topik yang mampu memberikan dampak pada penontonnya; yaitu tentang isu adiksi dan kompleksitas kepribadian pada seorang remaja transgender.

Buat yang belum menonton “Euphoria” season pertama pun ada kemungkinan besar tetap bisa menikmati dua episode spesial ini.

Click to comment

Shadow and Bone Review Shadow and Bone Review

Shadow and Bone: Serial Fantasi Berlatar Militer Kerajaan dengan Sihir

TV

The Falcon and the Winter Soldier The Falcon and the Winter Soldier

The Falcon and the Winter Soldier Review: Kulik Sisi Humanis Pahlawan Super

TV

The Serpent Review The Serpent Review

The Serpent: Mengikuti Perjalanan Charles Sobrahj Memburu Hippie Traveler

TV

Rekomendasi Serial Terbaru di Netflix (April 2021) Rekomendasi Serial Terbaru di Netflix (April 2021)

10 Rekomendasi Serial Terbaru di Netflix (April 2021)

Cultura Lists

Advertisement
Cultura Live Session
Connect