Connect with us
Dataran Tinggi Dieng
Dataran Tinggi Dieng diselimuti kabut pagi hari | Photo: Adriyani Ayu/Cultura

Culture

Dieng: Meruwat Anak Gembel, Merawat Tradisi

Kebesaran harapan akan masa depan dikemas di tanah Dieng–dengan merawat sejarah.

Salah satu magnet untuk para penikmat dataran tinggi dengan segenap kesejukan hawanya adalah Dieng. Desa yang terletak di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah ini adalah desa tertinggi kedua di dunia yang berpenghuni, setelah Tibet. Kondisi ini yang menyebabkan suhu di Dieng bisa sangat dingin. Memasuki musim kemarau apalagi, suhu bisa mencapai 0 derajat bahkan minus.

Bukan hanya kondisi geografisnya yang menarik, Dieng juga menarik secara budaya. Masyarakat Dieng masih memegang teguh adat istiadat yang kental dengan nuansa Jawa. Di tanah ini, kita bisa bertemu dengan “anak-anak pilihan”, anak-anak berambut gimbal. Belum ada yang bisa menjelaskannya secara ilmiah, namun masyarakat setempat meyakini bahwa anak-anak berambut gimbal adalah anak-anak utusan dewa.

Anak Gembel Dieng

Anak Gembel | Photo: Adriyani Ayu

Hanya di Dieng rambut gimbal atau gembel bisa tumbuh secara alami pada usia-usia tertentu dan tidak menurut keturunan. Sebelum tumbuh, anak-anak yang “dikaruniai” rambut gimbal, biasanya akan menderita panas tinggi dan seringkali mengigau saat tidur. Kalau sudah seperti itu dan dibawa ke dokter, hal pertama yang ditanyakan dokter adalah, “dari mana si anak berasal?”. Ketika dijawab “Dieng”, maka dokter telah paham, “tidak perlu penanganan khusus, ini hanya karena rambut gimbal akan tumbuh,” begitu cerita seorang kawan.

Rambut ini akan kembali seperti sedia kala, ketika ada permintaan sendiri dari si anak gimbal untuk memotong rambutnya, tidak ada paksaan dari siapa pun. Masyarakat meyakini bahwa ketika pemotongan rambut bukan karena permintaan dari si anak, maka meski telah dipotong, rambutnya akan kembali gimbal. Setelah ada permintaan, beberapa persyaratan lain yang diinginkan oleh si anak juga harus dipenuhi. Pemotongan rambut gimbal pun tidak sembarangan, ada rangkaian ritual yang mesti dijalankan. Masyarakat setempat menyebutnya ruwatan.

Pemuda Gimbal Dieng

Pemuda Dieng | Photo: Adriyani Ayu

Sudah sejak beberapa tahun terakhir, ruwatan seringkali disisipkan dalam rangkaian perhelatan Dieng Culture Festival (DCF). DCF adalah sebuah program budaya tahunan yang dihelat oleh kelompok masyarakat setempat dengan menggandeng berbagai pihak dari luar. Di prosesi inilah seluruh permintaan anak-anak yang akan diruwat harus dipenuhi. Biasanya, akan ada yang meminta perangkat elektronik yang sedang digandrungi anak-anak seusia mereka, sepeda dengan warna yang spesifik, sampai yang paling sederhana meminta jajanan di warung tetangga.

Salah satu syarat paling dasar dari pemotongan rambut ini, adalah anak yang akan diruwat telah berumur lima tahun ke atas. Pertimbangannya, anak-anak di usia ini sudah cukup mampu meyakini keinginannya. Seorang kawan bercerita bahwa permintaan anak-anak itu dipercaya akan mencerminkan bagaimana ia di masa yang akan datang. Bagi saya, tradisi Dieng ini adalah sesederhananya makna “menghargai dan mendengar suara anak, sekecil apapun bunyinya”.

ritual ruwatan dieng

Prosesi arak-arakan sebelum ritual ruwatan dimulai | Photo: Adriyani Ayu

Dalam prosesi ruwatan, akan ada arak-arakan (kirab), kemudian disambung dengan ritual jamasan (memandikan anak gembel), hingga rambut yang telah dipotong akan dilarung di salah satu sungai di Dieng yang akan bermuara di Laut Selatan.

Masyarakat Dieng tumbuh dengan atmosfer keislaman yang kuat, meski di atas tanahnya, terdapat candi yang mereka percayai sebagai candi tertua dalam peradaban Hindu di Pulau Jawa. Pola hidup keseharian masyarakat Dieng adalah produk akulturasi agama dan budaya lokal. Ritual-ritual yang masih mereka rawat dimaknai sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Ritual syukuran misalnya, ia adalah simbol hakekat manusia yang seharusnya tidak abai dengan sesamanya, ia menjadi sarana untuk berbagi, sarana untuk bersyukur kepada yang Maha Pemurah.

Dieng

Prosesi Ruwatan yang disaksikan oleh warga setempat dan wisatawan dari berbagai daerah | Photo: Adriyani Ayu

Dalam konteks ini, saya percaya bahwa kedekatan kita terhadap Tuhan, sering kali tidak membutuhkan deklarasi. Ia mewujud dalam banyak bahasa tanpa kata, lewat ritual-ritual budaya misalnya. Bagaimana pun, budaya adalah pintu masuk untuk bisa berbaur dan diterima oleh masyarakat setempat. Olehnya, tidak mengherankan jika Dieng sejuk dengan nafas penghargaan terhadap—yang mereka percayai sebagai— warisan leluhurnya.

Segala upaya yang dilakukan oleh masyarakat Dieng untuk merawat budaya adalah “dari, oleh, dan untuk mereka”. Bagi mereka, segala upaya itu adalah ruang untuk masyarakat manunggal dengan kedigdayaan sejarahnya, kebahagiaan masa kininya, dan kebesaran harapan untuk masa depannya.

Meminjam narasi penutup yang dibacakan Reza Rahadian dalam film Banda, “melupakan masa lalu sama dengan mematikan masa depan”. Kurang lebih, serupa itulah kebesaran harapan akan masa depan dikemas di tanah Dieng–dengan merawat sejarah.

Artikel Terkait:

Click to comment

Leave a Comment

hippies hippies

Hippies: Melawan dengan Rambut Gondrong

Culture

cuci tangan cuci tangan

Bagaimana Sejarah Manusia dalam Menyadari Pentingnya Cuci Tangan?

Lifestyle

Tanaman Kopi di Desa Kahayya Tanaman Kopi di Desa Kahayya

Kahayya: Kopi dan Gerakan Literasi

Culture

Raja Ampat Raja Ampat

Narasi Lain dari Raja Ampat dan Miangas

Culture

Advertisement
Connect