Connect with us
Demi Lovato
Photo: YouTube/Demi Lovato

Music

Demi Lovato: Dancing with the Devil… The Art of Starting Over

Mengungkap sisi kelam dan trauma kehidupan dalam album sepanjang 19 track.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Musik tidak sekadar menjadi penyembuhan dan penghiburan bagi Demi Lovato. Melalui musik, Demi menyuarakan sisi dan kisah terkelam hidupnya. Trauma dan perjalan panjang menuju kesembuhan hingga aktualisasi diri disajikan dalam ‘Dancing with the Devil… The Art of Starting Over.’

‘Dancing with the Devil… The Art of Starting Over’ dirilis pada awal April kemarin. Proses rekaman album sepanjang 19 track ini bersamaan dengan dokumentari Dancing with the Devil, yang mendokumentasikan proses penyembuhan dan penemuan diri sendiri dari seorang Demi Lovato. Seperti yang diharapkan, album yang digarap bersama sederet produser dan kolaborator ini menarasikan pengalaman paling tidak terlupakan sang mantan Disney Star.

Membahas album ‘Dancing with the Devil… The Art of Starting Over’ mau tak mau harus mengulas kembali cerita kelam dari masa pra-remaja, remaja, hingga dewasa Demi Lovato.

Bintang film Camp Rock ini meraih sukses dan dikenal sebagai pop star sejak berusia belasan tahun. Sayangnya dunia showbiz tidak segemilang di depan layar. Di balik layar, Demi berjuang dengan eating disorder, self harm, hingga penggunaan obat-obatan terlarang. Ditambah dengan trauma mengalami pelecehan seksual di usia 15 tahun oleh orang terdekat yang semakin menjerumuskan Demi pada obat-obatan.

Pada usia 18 tahun, Demi mengakui ia berjuang dengan ketergantungan. Sempat dinyatakan sembuh, pada musim panas 2018 Demi justru ditemukan overdosis. Dokumentari Dancing with the Devil mengungkap bagaimana sang popstar nyaris tidak selamat pada saat itu.

Tiga track pertama di ‘Dancing with the Devil…The Art of Starting Over’ mengambil peran sebagai Prelude yang mengisahkan tentang masa-masa terkelam yang dialami Demi. “Anyone” merupakan power ballad yang tidak hanya memperlihatkan kekuatan vokal serta musikalitas Demi. Melainkan menggugah pendengar melalui lirik yang penuh akan rasa kesepian dan keputusasaan.

“A hundred million stories/And a hundred million songs/I feel stupid when I sing/Nobody’s listening to me,” Demi menuliskan bagaimana ia berusaha mencari penghiburan melalui karya. Namun tetap tidak menemukan jalan keluar.

Irama balada masih diusung pada track Prelude kedua, “Dancing with the Devil.” Kali ini Demi menceritakan awal mula ia terjatuh pada ketergantungan hingga berakhir overdosis: “A little red wine” menjadi “a little white line,” hingga kemudian jadi “a little glass pipe.”

Prelude yang menjadi pembuka di album ini secara sempurna mengobrak-abrik perasaan penggemar. Nada-nada balada yang diusung, berpadu dengan vokal Demi membantu pendengar fokus pada lirik; Untuk pesan yang ingin disampaikan. Puncaknya pada track ketiga, “ICU (Madison’s Lullabye)” yang menggambarkan ketika Demi berada di rumah sakit usai overdosis.

Track awal sebagai prelude ini juga membuka sisi baru dari seorang Demi, secara musikalitas. Ia meninggalkan era pool-party electro pop dan R&B yang menjadi nafas di album rilisan 2017, ‘Tell Me You Love Me.’ Menjadi pop-rock dengan berbagai adaptasi dan eksplorasi berbeda.

“The Art of Starting Over” mengedepankan irama soft rock. Sedangkan “Lonely People” seakan ditujukan untuk sing along di konser berskala stadium—yang bukan tidak mungkin akan dicapai Demi ketika pandemi berakhir.

Melodi folk dengan sentuhan rock dan pop yang tidak kalah kental disuguhkan dalam “The Way You Don’t Look at Me.” Melalui track ini Demi mencurahkan tentang eating disorder yang ia alami; “I’m so scared if I undress that you won’t love me after,” senandungnya dalam track yang ditulis bersama Justin Tranter ini.

Ariana Grande digandeng sebagai kolaborator untuk single promosi sekaligus track selanjutnya. “Met Him Last Night” menghadirkan perpaduan menarik antara vokal Ari dan Demi dalam balutan irama electro pop nan catchy.

Track “The Kind of Lover I Am” memberi highlight pada seksualitas Demi. Ia menyanyikan bagaimana “Doesn’t matter if you’re a woman or a man, that’s the kind of lover I am.” Tren musik indie pop ala Billie Eilish, lengkap dengan gaya vokalisasi, diadopsi Demi dalam track kolaborasi bersama Saweetie: “My Girlfriends Are My Boyfriend.”

Perjalanan Demi dalam penyembuhan digambarkan melalui “California Sober.” Sebelum menutup album dengan ballad beriring gitar akustik, “Good Place.”

Memiliki total 19 track, versi original ‘Dancing with the Devil… The Art of Starting Over’ memiliki durasi lebih dari 57 menit. Demi seolah menyadari bahwa album ini akan menjadi terlalu panjang dengan tema yang begitu berat. Untuk itu, dihadirkan track-track kolaborasi dengan Ariana Grande, Saweetie, hingga Sam Fischer dan Noah Cyrus yang masing-masing memberi warna berbeda.

Demi tidak banyak bereksplorasi dalam genre pop-rock yang menjadi benang merah. Beberapa track, seperti “My Girlfriends Are My Boyfriends” bernafaskan indie R&B dengan rap crisp dari Saweetie. “Melon Cake” memiliki nada-nada pop ringan dan “15 Minutes” yang lebih up beat.

Secara keseluruhan, Demi seakan tidak mengejar angka stream atau posisi di chart. Tidak adanya bop yang cukup catchy untuk menjadi hits maupun melodi yang kiranya akan menaikan lagu hingga viral, menjadikan ‘Dancing with the Devil… The Art of Starting Over’ seolah album personal. Demi menceritakan kisah hidupnya melalui nada-nada raw dan lirik penuh kejujuran. Tanpa hadirnya polesan yang biasa ditemukan dalam album dari seorang pop star.

Click to comment

Julia Michaels Julia Michaels

Julia Michaels: Not in Chronological Order Album Review

Music

The Armed The Armed

The Armed: ULTRAPOP Album Review

Music

Young Stoner Life Young Stoner Life

Young Stoner Life: Slime Language 2 Compilation Album Review

Music

PJ Harding & Noah Cyrus: People Don’t Change Album Review

Music

Advertisement
Cultura Live Session
Connect