Connect with us
Coven of Sisters

Film

Coven of Sisters Review: Mengungkap Kebenaran Hari Sabat Penyihir

Gambaran peristiwa penghakiman gadis muda sebagai penyihir di masa lalu.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Penghakiman dan eksekusi pada ratusan perempuan yang dituduh sebagai penyihir benar-benar terjadi di belahan dunia Barat di masa lalu. Mulai dari kisah Salem Witch Trial di Massachusetts pada tahun 1600-an dan masih banyak lagi sejarah perburuan penyihir di benua Eropa. “Coven of Sisters” merupakan film historical thriller yang terinspirasi dari berbagai kisah sejarah tersebut.

Berlatar di Basque pada tahun 1609, lima gadis muda ditangkap atas nama kerajaan dengan tuduhan bahwa mereka adalah penyihir. Dengan tujuan mengulur waktu untuk bertahan hidup, Amaia membujuk hakim untuk menunggu hingga malam bulan purnama yang dipercaya sebagai hari Sabat penyihir. “Coven of Sisters” merupakan film Spanyol karya sutradara Pablo Aguero. Dibintangi oleh Yune Nogueiras, Amaia Aberasturi, dan Alex Brendemuhl.

Coven of Sisters

Penulisan Cerita yang Dekat dengan Realita Tanpa Sentuhan Horror yang Disengaja

Berbeda dengan film tentang penyihir yang pada umumnya memiliki sentuhan horror dan supranatural, “Coven of Sisters” semaksimal mungkin berusaha menulis naskah yang lebih dekat dengan realita. Mulai dari kompleksitas situasi gadis muda yang tak memahami tuduhan mereka, hingga delusi dan paranoid dari para petinggi agama dan hakim kerajaan dalam kisah ini.

Pihak kerajaan seakan memaksakan delusi mereka hanya dengan dasar paranoid bahwa lima gadis muda yang mereka tangkap adalah penyihir. Bagi Amaia dan kawan-kawan, tak ada pilihan selain mengaku bahwa mereka penyihir, karena dalam kasus ini apapun yang mereka katakan dianggap kebohongan. Tabrakan antara dua pihak inilah yang akhirnya mengakselerasi cerita menjadi menarik, dimana pada akhirnya Amaia hanya ingin bertahan hidup. Sementara hakim akhirnya juga memiliki keinginan lain yang sebetulnya merupakan hal natural, namun didefinisikan sebagai sihir atau mantra dari Amaia.

Tak ada adegan melayang, tak ada penampakan iblis, maupun adegan di luar logika lainnya. Namun secara ajaib mampu menimbulkan nuansa supranatural, tergantung perspektif. Awalnya terasa kurang meyakinkan tak jelas mau dibawah kemana ceritanya, namun seiring berkembangnya plot, kita akan dibuat terpikat dan penasaran akan nasib dari lima gadis dalam kisah ini.

Coven of Sisters

Pemahaman Baru Tentang “Kepercayaan”, Membebaskan Penonton Berasumsi

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, film ini lebih tentang perspektif. Konsepnya adalah ‘kepercayaan’ merupakan perspektif. Itu mengapa di dunia ini  setiap orang memiliki kepercayaannya masing-masing. Dalam “Coven of Sisters”, kita bisa melihat bagaimana kepercayaan bisa tercipta.

Berawal dari delusi atau imajinasi, kemudian sosok yang menyakinkan untuk membuat imajinasi menjadi nyata, hingga pada akhirnya sugesti yang muncul karena stimulasi tertentu. Bisa melalui nyanyian, tarian, hingga stimulasi yang bersifat sensual.

“Coven of Sisters” bukan film yang akan memberikan jawaban, namun menuntut asumsi dan kepercayaan dari penonton. Karena tugas Amaia dalam kisah ini tidak hanya untuk menyakinkan pengadilan kerajaan, namun juga kita sebagai penonton.

Konsep ini berhasil dieksekusi juga berkat penampilan akting dari Amaia Aberasturi dan keempat aktris pendukung lainnya. Kita akan melihat progres dari “aktingnya” sebagai penyihir, mulai dari sekadar mengarang fakta, hingga pada akhirnya Ia semakin menyakinkan dan tenggelam dalam kepercayaan yang Ia buat sendiri. Begitu juga keempat aktris lainnya yang semakin totalitas memasuki babak terakhir dari film ini.

Produksi Bisa Lebih Artistik, Pondasi yang Kurang Kuat Dalam Mengawali Cerita

Salah satu hal yang disayangkan dalam “Coven of Sisters” adalah produksi low budget yang tidak dengan pandai diakali. Tak ada yang spesial dalam segi editing dan sinematografi, padahal film ini sangat berpotensi untuk menjadi film psikologikal supranatural yang mendekati kualitas The Witch (2015) karya Robert Eggers.

Ada referensi dari kisah sejarah seperti pengadilan penyihir, hingga kisah orang-orang yang menari hingga mati pada tahun 1518 di bawah kekaisaran Roma. Merupakan salah satu usaha penulis naskah untuk membuat naskah yang dekat dengan realita. Namun, “Coven of Sisters” tidak diawali dengan sempurna. Ibarat sedang menulis esai, penulis baru terinspirasi dan mendapatkan ide terbaik belakangan. Motif dan asal mula perburuan penyihir yang dilakukan oleh hakim kerajaan tidak memiliki pondasi yang kuat untuk memulai semua ini.

Meski memiliki beberapa kekurangan, “Coven of Sisters” termasuk film terbaru di Netflix yang patut ditonton. Kualitas akting dan konsep kepercayaan yang menarik dalam film ini patut kalian alami sendiri.

Click to comment

Love and Monsters Review Love and Monsters Review

Love and Monsters Review: Petualangan Joel Melawan Monster Demi Cinta

Film

Two Distant Strangers Two Distant Strangers

Two Distant Strangers Review

Film

Thunder Force Thunder Force

Thunder Force Review: Film Superhero dengan Cita Rasa Parodi

Film

The Serpent Review The Serpent Review

The Serpent: Mengikuti Perjalanan Charles Sobrahj Memburu Hippie Traveler

TV

Advertisement
Cultura Live Session
Connect