Connect with us
Senigma
capernaum 2018 movie review indonesia

Film

Capernaum: Anak-anak Terlantar dan Kekacauan di Lebanon

Bagaimana bila seorang anak menggugat orangtuanya agar tidak terus beranak pinak?

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Zain Al-Hajj (diperankan dengan apik oleh Zain Al-Rafeea) tidak tampak seperti seorang anak laki-laki berusia 12 tahun. Tubuhnya stunting. Ia terlalu kurus juga terlalu pendek untuk anak seusia itu. Tapi jangan meragukan pola pikir bocah mungil ini. Ia terlampau bijak untuk anak seusianya. Bahkan sang sutradara, Nadine Labaki, juga mengakui begitulah karakter Zain di dunia nyata. Bila dalam film Capernaum Zain kecil memerankan seorang bocah laki-laki Lebanon, pada kehidupan nyata ia sebenarnya adalah pengungsi dari Suriah.

Film Capernaum diciptakan oleh seorang sutrada perempuan asal Lebanon yang terhenyak pada kenyataan betapa kacaunya kehidupan di negara itu. Separuh penduduk Lebanon saat ini adalah pengungsi dari Suriah. Anak-anak hidup di jalan, mencari uang, atau hanya menghabiskan sisa hidup mereka tanpa kepastian. Para orangtua tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan mereka apalagi sekadar memberi makan. Kemiskinan sudah sangat menyesakkan urat nadi. Nadine yang dibantu suaminya lalu memproduksi film ini di negara yang sesungguhnya tak punya industri film.

Sebenarnya kita tidak perlu jauh-jauh berkaca ke Lebanon. Di Indonesia pun ada banyak kondisi dimana orangtua yang hidup di bawah garis kemiskinan tidak mampu menghidupi anak-anaknya dengan layak. Orangtua yang tetap beranak pinak meski menyediakan nasi saja tak mampu lantas menikahkan anak perempuannya di usia dini demi mengurangi beban ekonomi. Tidak hanya di Lebanon, di sini pun angka perkawinan usia dini masih tinggi. Sayangnya kita masih saja menolak realita ini dan membiarkan anak-anak itu hidup tidak manusiawi.

capernaum film review

Lalu begitulah film ini diciptakan oleh Nadine. Agar orang-orang tertampar dan mengakui bahwa inilah kondisi yang kita hadapi. Zain, entah memiliki berapa saudara, hidup berdesak-desakan dalam sebuah flat kumuh yang tak layak huni. Ayah ibunya menganggap anak adalah anugerah sekaligus sebuah keharusan. Tidak memiliki anak adalah aib. Mereka terus bereproduksi meski di saat-saat terburuk hanya mampu memberi anak-anak mereka air dan gula untuk dikonsumsi. Mereka juga menyuruh Zain memalsukan resep agar bisa membeli obat di apotik untuk dijual secara ilegal.

Zain sudah lelah dengan hidupnya. Tapi ia tetap berusaha untuk mencari uang dengan cara apapun yang ia bisa. Suatu ketika ia menyadari adiknya, Sahar, telah akil baligh. Sahar mendapatkan menstruasi pertamanya. Zain merasa takut sang adik akan dijual oleh orangtuanya. Ia lalu mencucikan celana dalam Sahar dan menyuruh si adik memakai bajunya sebagai pengganti pembalut. Zain pun rela mencuri pembalut dari warung agar Sahar bisa tetap hidup nyaman.

Di usia begitu muda, Zain sudah menyadari tanggung jawabnya sebagai seorang kakak. Ia benci pada orangtua yang membuatnya harus melakukan pekerjaan kotor. Ia melirik dengan nelangsa ketika ibunya yang menggendong bayi tetap sibuk mengepulkan asap rokok. Hatinya tak tenang ketika pemilik warung menggoda adiknya yang masih di bawah umur. Namun usahanya menjaga Sahar gagal. Sahar dijual, ia ditukar dengan makanan. Zain lalu kabur dengan bertemu imigran gelap dari Ethiopia bernama Rahil dengan putranya yang masih bayi yaitu Yonas.

capernaum review

Zain mengalami kemalangan demi kemalangan tanpa henti. Di wajahnya hampir selalu tergurat amarah. Untuk ukuran anak 12 tahun pun bahasanya cenderung kasar. Sebut saja, “bajingan” atau “pelacur”. Rahil yang dipenjara karena dianggap penduduk gelap membuat Zain harus membesarkan dan memberi makan Yonas. Tak sampai di situ, Zain akhirnya tahu adiknya meninggal karena hamil di usia terlalu muda. Zain membunuh suami adiknya. Di depan hakim ia menolak menyebut yang ia bunuh adalah manusia. Baginya yang ia tikam adalah anjing.

Patut digarisbawahi bahwa semua aktor maupun aktris dalam film ini bukanlah pekerja seni profesional. Rahil sendiri memang imigran gelap dan setelah syuting selesai ia benar-benar ditangkap. Zain sebagai seorang imigran sudah melanjutkan hidupnya di Eropa. Kini ia bersekolah. Kalau dibilang apakah berlebihan bila Zain sampai menggugat orangtuanya karena tak ingin ayah ibunya punya anak lagi, sebenarnya tidak. Nadine dalam wawancaranya dengan The Guardian mengatakan anak-anak Lebanon yang ia temui juga memiliki sikap serupa. Mereka bertanya kenapa mereka dilahirkan bila tanpa kasih sayang.

“I asked the children I spoke to if they were happy to be alive, and for the most part the answer was no.”
– Nadine Labaki

Ada banyak dialog menyedihkan dalam film ini. Ketika Ibu Zain dengan senang hati menyapa keponakan-keponakannya di penjara, ketika mengucap kalimat Tuhan untuk kondisi yang sesungguhnya tak patut, juga ketika menyeret anaknya ketika tak mau dijual. Ayahnya pun berlaku serupa. Tanpa tahu malu, malah membela diri dengan kata-kata seharusnya anak lelakinya menjadi tulang punggung keluarga, bukan membikin malu dengan menikam orang. Kita akan menemukan hal serupa di Indonesia. Ada banyak contohnya. Orangtua yang menjual anak karena butuh uang? Orangtua yang menyewakan bayi untuk dipakai pengemis? Kita pernah melihat beritanya setidaknya sekali seumur hidup.

Nadine terlalu cerdas dalam membuat film ini. Kita tidak dibuat bosan. Tak ada akting berlebihan dengan tangis menggerung-gerung. Hanya ada satu adegan tangis yang ditujukan untuk keperluan dramatis, itupun sangat beralasan: karena khawatir akan keselamatan bayinya. Adegan lain murni dialog-dialog polos, naif, jujur, hingga banal. Ada pula dialog yang seharusnya sangat tragis tapi justru diucapkan dengan wajah senang.

Nadine tak merasa perlu mengeksploitasi kemiskinan atau air mata demi keuntungan film ini. Ia membuat kita mencerna sendiri kenyataan yang ada. Capernaum (2018) mendapat rating yang sangat bagus di Rotten Tomatoes. Ia juga meraih penghargaan di Sarajevo Film Festival, Melbourne Film Festival, Mill Valley Film Festival, Miami Gems Film Festival, dan masih banyak lagi deretan penghargaan lainnya termasuk nominasi Oscar.

Click to comment

Leave a Comment

Living With Yourself Review Living With Yourself Review

Living With Yourself Review: Serial Drama Komedi Bertema Cloning

TV

Failin in Love Review Failin in Love Review

Failin in Love Review

TV

crazy love review crazy love review

Crazy Romance Review: Sajian Romansa Komedi Yang Menghibur

Film

Alex Lawther and Jessica Barden in Season 1 | Netflix Alex Lawther and Jessica Barden in Season 1 | Netflix

The End of the F***ing World Season 2 Review

TV

Connect