Connect with us
Cadaver
Netflix

Film

Cadaver Review: Hotel Pertunjukan yang Misterius di Negeri Distopia

Premis menarik dan original, namun kurang dalam pengembangan cerita.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Cadaver (Kadaver) merupakan Netflix Original Movie horor thriller terbaru di bulan Oktober 2020. Film asal Norwegia ini disutradarai dan ditulis oleh Jarand Herdal, dibintangi oleh Gitte Witt, Thomas Gullestad, dan Thorbjorn Harr. Semakin mendekati perayaan Halloween, akan ada banyak film horror yang rilis di Netflix. Cadaver menjadi salah satu film horror yang mengawali teror dengan tema cerita yang mengerikan dan cukup sadis.

Berlatar pada sebuah negara pasca serangan bom nuklir dalam skala besar, menciptakan distopia dimana semua orang yang selamat hanya hidup untuk mati secara perlahan karena kelaparan. Leonora, Jacob, beserta anak perempuan mereka, Alice, merupakan salah satu keluarga yang masih berusaha hidup di tengah-tengah situasi pelik. Harapan akan sedikit kebahagian dan makanan pun mereka temukan ketika mendapat undangan pertunjukan spesial di sebuah hotel. Bukannya gratis, Leonora dan keluarganya ternyata harus membayar lebih dari yang mereka bisa bayangkan.

Latar Post-apocalypse dan Hotel Misterius yang Menarik

Seperti yang telah disebutkan dalam sinopsis, Cadaver berlatar seperti dunia post-apocalypse akibat serangan bom nuklir dalam skala besar. Kita akan dibawa memahami situasi malang yang dialami oleh karakter utama dan keluarganya. Ketika mereka harus bersembunyi dari orang yang memilih untuk jadi jahat, hingga penampakan orang-orang mati kelaparan bergeletakan di jalan seperti bangkai hewan. Pada babak awal ini, dunia distopia yang diciptakan sudah cukup menarik. Dunia rekayasa dalam film ini dapat menyakinkan penonton bahwa bisa saja bencana seperti ini terjadi. Sehingga kengerian yang tercipta lebih mudah ditangkap oleh penontonnya.

cadaver netflix

Netflix

Kita bisa merasakan transisi dari realita menuju dunia fiksi horor ketika Leonora memutuskan untuk pergi ke hotel misterius demi jamuan gratis dan pertunjukan spesial. Hotel yang dijalankan oleh karakter bernama Mathias ini memiliki konsep sangat menarik untuk dikembangkan sebagai sebuah cerita horror suspense. Seandainya saja penulis mau menggodok materi ini lebih lama, mungkin bisa menjadi film original yang tidak cuma memiliki premis menarik, namun juga jalan cerita yang memuaskan penonton dengan materi kompleks.

Dialognya terasa lemah dan nanggung bagusnya. Konsep hotelnya sendiri sebagai panggung sandiwara seharusnya bisa melebur menjadi cerita yang saling berkaitan. Namun, hotel seakan tampil sekedar sebagai jebakan yang terpisah dengan objektif dari karakter antagonis dalam kisah ini. Penulis naskah memang memiliki ide yang brilian tentang cara kerja hotel ini, bahkan hingga akhir film. Namun, kurang maksimal dalam mengisi setiap babak dalam pertengahan film.

Cukup Menegangkan Meski Mengandung Adegan Gore yang Tanggung

Cadaver memiliki adegan pembukaan yang sangat menjanjikan, kita dapatkan merasakan ketegangan melalui horror distopia yang diperlihat. Teror yang nyata akan kesengsaraan dan rasa putus asa sebagai manusia merupakan jenis ketakutan yang relevan. Sebagai penonton yang tidak semenderita karakter dalam film, kita masih memiliki nalar untuk mencurigai niat Mathias sebagai pemilik hotel.

Karakter dalam kisah ini memiliki rasa lapar yang lebih tinggi ketimbang curiga dengan undangan gratis di sebuah hotel mewah yang misterius. Ketika pertunjukan keliling dimulai, kita sebagai penonton akan merasa paranoid dan gelisah. Seperti akan ada jumpscare atau hal tidak terduga siap menyerang dari sudut ruangan. Cadaver untungnya tidak sama sekali tidak memiliki jumpscare murahan seperti itu. Namun, musik scoring yang dihadirkan cukup generik sebagai film horor; dengan suara musik yang keras saat adegan-adegan krusial.

Netflix

Perasaan paranoid yang berbeda juga dirasakan oleh setiap karakter utama. Mulanya semua ketakutan mereka hanyalah ilusi, namun ada titik dimana ketakutan mereka akhirnya menjadi nyata.

Ketegangan yang dihadirkan pada babak awal film sayangnya tak dipertahankan hingga akhir dengan sempurna. Ada titik dimana bagaimana sebetulnya cara kerja hotel akan dipertanyakan. Meskipun pada akhirnya akan diungkapkan, penonton harus bingung dulu, seperti ada lubang di tengah plot film ini. Pada saat momen pengungkapan pun, materi yang seharusnya mengandung konten gore tidak ditampilkan secara maksimal secara produksi. Padahal kisah seakan ingin menunjukan horor yang tersimpan di dalam hotel tersebut lebih mengerikan dari dunia luar. Namun, kengerian pada plot twist kurang berhasil dieksekusi. Meninggalkan perasaan underwhelming pada penonton ketika film berakhir.

Kehadiran Beberapa Karakter yang Tidak Signifikan

Ada beberapa karakter pendukung yang kehadirannya terasa tidak signifikan. Pertama adalah seorang aktor yang bekerja untuk hotel. Ia sekedar diselipkan dalam plot utama, hanya untuk mengganggu objektif Leonora dan suaminya. Padahal sudah ada karakter pendukung lain yang memiliki tugas untuk menghalangi protagonis dan masuk sempurna dalam plot.

Mathias sebagai pemilik hotel juga memiliki latar belakang yang penting untuk diketahui penonton. Namun, materi tersebut hanya ditunjukan secara visual melalui koran yang tak sengaja terlihat oleh protagonis, mirip dengan adegan pertama yang menunjukan bencana bom nuklir melalui koran yang lebih natural. Sangat mungkin penonton melewatkan detail ini ketika streaming santai di Netflix.

Secara keseluruhan, Cadaver merupakan film horror thriller yang memiliki premis sangat menarik. Penulis memiliki gagasan yang kuat tentang konsep distopia yang realistis dan hotel yang lebih fantasi. Namun, kurang maksimal dalam mengisi dan mengembangkan cerita.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect