Connect with us
Burgerkill Adamantine
Photo via melkweg.nl

Music

Burgerkill: Adamantine Album Review

“Adamantine” bukan sekedar album metal dengan musik keras atau tong kosong nyaring berbunyi.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Adamantine” bukan album sembarangan. Dirilis pada April 2018, album kelima dari Burgerkill ini seharusnya dirilis pada 2015. Menyusul “Venomous” yang sudah lebih dulu menggebrak di tahun 2011. Sekaligus menjadi penanda anniversary ke-20 dari band metal kenamaan ini.

Sayangnya kesibukan dari para personil sampai perubahan formasi dalam band membuat perilisan album diundur 3 tahun. Untungnya hal-hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhi kualitas “Adamantine”.

Terdiri dari 9 track, termasuk cover ‘Air Mata Api’ dari Iwan Fals, “Adamantine” sepenuhnya hadir dengan musik metal. Keras, menggebrak, penuh amarah, dan tanga tedeng aling-aling.

Burgerkill benar-benar memperlihatkan kelas mereka sebagai band metal terkemuka di Indonesia. Bahkan bukan tak mungkin di dunia bila menilik dari kualitas musikalitas yang dihadirkan melalui “Adamantine” saja. Louder bahkan menyebut album terbaru dari Burgerkill ini sebagai “world-beater, light years ahead of its predecessor in terms of production, songwriting craft and sonic impact.”

Begitulah besarnya pengaruh album “Adamantine” dan Burgerkill di komunitas metal.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by BURGERKILL (@burgerkillofficial) on

‘Undamaged’ menjadi intro pembuka dan langsung menyemburkan ancaman: “You cannot destroy what you did not create…” Lirik singkat di lagu intro yang seolah mempersiapkan pendengar apa yang akan menyambut mereka di track-track berikutnya. Dibuka dengan petikan yang masih terbilang mellow, bisikan “You cannot destroy what you did not create…” berulang-ulang cukup membuat bulu kuduk meremang.

Sebelum pendengar dibombardir dengan harmonisasi manis drum, gitar serta bass di ‘Pledge To Fight’, track ini hadir dengan vokal meraung, serta bass yang cadas. Tak ada celah untuk pendengar “bernafas” di track kedua ini. Sejak menit pertama sampai keempat, pendengar disuguhi gebukan drum penuh amarah dan raungan keras. Masih track kedua, dan Burgerkill seolah sudah menancapkan “Adamantine” sebagai album metal terbaik Indonesia di tahun itu.

‘Pledge To Fight’ yang seakan mengajak pendengarnya benar-benar bertengkar dilanjut dengan musik metal lebih progresif di ‘Paradoks.’ Track ini memiliki lebih banyak layer serta menghadirkan musik metal lebih inovatif. Permainan gitar bertumpuk-tumpuk, sampai porsi gitar solo membuat track ini benar-benar menjadi sebuah ‘Paradoks.’

Berlanjut ke ‘Integral,’ Burgerkill menjadi lebih cadas. Metal hardcore sepertinya benar-benar menjadi semangat dari track ini. Dibuka dengan permainan gitar dengan tempo perlahan nan menawan, detik berikutnya geraman drum langsung menggebrak. Vokal menggelegar, meraung, dan teriakan di ‘Integral’ seolah menjadi penggambaran beruang grizzly yang dijadikan ikon di cover album.

Setelah progressive metal, hingga hardcore, ‘Superficial’ hadir dengan elemen musik lain. Track sepanjang 6 menit ini sepertinya tak perlu diragukan menjadi yang terbaik. Mulai dari permainan instrumen yang lebih solid, sentuhan tech metal yang menjadikan ‘Superficial’ terdengar sangat modern. Terlebih berbeda dengan beberapa track sebelumnya yang seakan mencengkram, ‘Superficial’ justru hadir dengan beringas namun masih memberi ruang untuk pendengarnya.

Permainan pada melodi hingga adanya solo gitar menjadikan ‘Superficial’ semakin sulit tertebak. Vokal Vicky juga ditantang untuk masuk ke ranah yang bukan hanya “sekedar” meraungkan lirik. Memiliki durasi 6 menit, ‘Superficial’ merupakan pengalaman musikal yang menakjubkan.

Burgerkill sepertinya berniat menjadikan “Adamantine” sebagai album metal yang menjadi rujukan bagi genre lain. ‘United Front’ menyisipkan elemen punk dan hardcore di dalamnya. Adanya Dom Lawson yang menjadi vokalis tamu memberikan warna berbeda. Walau sebenarnya setelah ‘Superficial’, ‘United Front’ seolah belum cukup memuaskan sebagai “makanan penutup.”

‘Undefeated,’ seperti judulnya seolah tak terkalahkan. Di track ini, Burgerkill memadukan semua referensi musik yang digunakan dalam “Adamantine”. Mulai dari sentuhan hardcore, elemen musik punk, sampai rock. ‘Undefeated’ seolah menjadi lagu metal yang benar-benar “menyerang” keras, tak tergoyahkan, dan memaksa pendengarnya untuk mengikuti sampai akhir. Permainan drum menggebu-gebu dari Putra Pra Ramadhan memberikan kepuasan tersendiri saat track ditutup dengan lengkingan dari Vicky di 4:26 menit.

Usai digebrak melalui ‘Undefeated,’ Burgerkill menurunkan tensi dan hadir dengan musik metal melankolis. ‘Celestial’ merupakan instrumental track yang rupanya khusus didedikasikan untuk keluarga serta teman Burgerkill yang sudah tiada. Aransemen musik akustik berpadu dengan hard rock, dan juga solo bass yang dihadirkan oleh Ramdan cukup membuat emosional.

Sepertinya mendengarkan musik instrumental ini di tengah konser Burgerkill akan membuat penggemar sesak dengan tangisan. Lagu sendu yang membuktikan musisi metal tak hanya sekedar bisa bermain instrumen “keras.” Amazingly well done.

‘Air Mata Api’ menjadi track penutup dan merupakan lagu cover dari hits milik Iwan Fals. Jujur saja setelah ‘Pledge To Fight’, ‘Superficial’, sampai ‘Celestial’, ‘Air Mata Api’ justru terdengar sekedar sebagai lagu cover. Terlalu banyak track apik dari album ini hingga menjadikan komposisi aransemen sebaik ‘Air Mata Api’ terdengar biasa saja.

Sekali lagi, “Adamantine” bukan sekedar album metal dengan musik keras. Burgerkill benar-benar membuktikan kelas dan kualitas mereka melalui album ini.

“Adamantine” bukan merupakan tong kosong yang nyaring berbunyi. Album metal ini sarat akan elemen musik, skill yang sepertinya tak terbantahkan lagi, energi melimpah, dan semangat bermusik meruah.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect