Connect with us
Senigma
bumi manusia review
Falcon Pictures

Film

Bumi Manusia Review: Film Cinta-cintaan Biasa

Bagaimana Hanung mengangkat salah satu karya sastra kebanggan Indonesia ini ke layar lebar?

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Tanggal 15 Agustus lalu, Falcon Pictures memutuskan merilis kedua filmnya bersamaan yaitu Bumi Manusia dan Perburuan. Keduanya diangkat dari novel karya sastrawan kebanggan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Bisa dibilang Bumi Manusia adalah salah satu novel Pram yang paling ternama selain Gadis Pantai. Hanung Bramantyo didapuk sebagai sutradaranya. Ia lalu memilih Iqbaal Ramadhan memerankan Minke, seorang anak bupati berpikiran maju dengan idealisme tinggi.

Sebenarnya Minke bukanlah nama asli dari pemuda Jawa itu. Ia memiliki gelar Raden Mas dan dipanggil Tirto. Namun ia memilih dipanggil Minke, nama yang merupakan ejekan dari guru sekolah dan kawan-kawannya di masa kecil. Minke yang berasal dari kalangan bangsawan mampu mengenyam pendidikan seperti anak Belanda lainnya. Karena itulah Minke fasih berbahasa Belanda juga berani mengirim tulisannya ke media. Cita-cita Minke adalah menjadi manusia bebas, tak diperintah ataupun memerintah. Impiannya adalah dunia yang egaliter.

Atas ajakan temannya, Suurhof, Minke datang ke rumah keluarga Herman Mellema. Orang kaya Belanda itu memiliki seorang gundik bernama Nyai Ontosoroh yang cerdas dan tegas. Meski sebenarnya Nyai Ontosoroh adalah pribumi yang tak mengenyam pendidikan, ia mampu mengelola bisnis keluarganya. Kecakapan dan kepercayaan dirinya sebagai seorang pribumi memuat putrinya yang separuh Belanda separuh Indonesia, Annelies, terkagum-kagum. Bagi Annelies merupakan suatu kehormatan bila ia bisa menjadi pribumi Jawa seperti sang mama.

Minke dan Annelies yang masih sangat muda sama-sama jatuh cinta. Itulah yang membuat Nyai Ontosoroh menyuruh Minke tinggal di rumahnya agar mereka berdua bisa selalu bersama. Minke yang asli pribumi tak diterima oleh ayah maupun kakak Annelies. Sebaliknya, keputusan Minke tinggal di rumah seorang gundik menjadikan ayah ibunya malu karena khawatir dibicarakan orang. Annelies sendiri begitu manja dan rapuh sehingga tindak tanduknya terlihat begitu lemah.

Ada banyak hal yang tidak dijelaskan di dalam film ini. Nampaknya Hanung kesulitan untuk menerjemahkan karya Pram ke layar lebar. Meski berdurasi tiga jam pun masih ada plot hole di sana-sini. Walau dapat dipahami tak mungkin seluruh isi novel digambarkan secara penuh ke dalam bentuk film, tetapi potongan yang dipilih pun terasa patah-patah. Orang yang bukan pembaca novel Pram akan merasa bingung dan bertanya-tanya sepanjang film. Bisa dibilang skenario yang dibuat kurang mulus. Apalagi dalam kasus kematian Herman Mellema. Tak dijelaskan alasan orang yang meracuninya.

Scene yang menggambarkan pertarungan batin dan perang ideologi antara Minke, Annelies, maupun Nyai Ontosoroh memang mendominasi sepanjang film. Namun sayangnya, perang ideologi itu terasa datar. Klimaksnya pun nanggung. Penonton tak dibuat merasakan kegamangan luar biasa antara Minke dan Annelies yang ingin memerjuangkan cintanya meski berbeda ras. Film ini rasanya seperti film cinta-cintaan biasa. Sebenarnya membingungkan juga bagaimana Minke dan Annelies bisa saling cinta. Annelies yang terlalu rapuh seperti “kurang berusaha”.

Adegan berkali-kali pingsan dan terbaring di kasur tidak memberikan kita alasan kuat sumbangsih Annelies terhadap hubungan itu. Lucu juga bila dilihat-lihat, Minke tidak banyak membicarakan pertarungan batinnya itu dengan Annelies. Justru pembicaraan lebih berbobot dilakukan Minke dengan Nyai Ontosoroh. Seakan, Annelies hanya pajangan belaka. Bila kita menilik ke zaman di mana Minke dan Annelies hidup, memang bisa dipahami bahwa perempuan saat itu adalah makhluk kelas dua. Perempuan umumnya bergantung dan tak banyak mengungkapkan pikiran. Tetapi rasanya aneh bila Minke dan Annelies bisa menyatukan pikiran hingga menikah bila mereka tak bicara mendalam.

Kalaupun kita mencoba menilai tinggi Bumi Manusia dari scene percintaannya, chemistry Minke dan Annelies masih kurang matang. Akting mereka tidaklah buruk. Cukup bagus. Namun percik-percik cinta itu kurang tergambar jelas. Justru kegalauan yang makin meruncing hingga ke akhir filmlah yang mendominasi hubungan Minke dan Annelies. Seharusnya naskah maupun akting dari keduanya mampu memberikan gambaran cinta dua anak muda yang berbunga-bunga. Tetapi Minke lebih sibuk mendengus marah dan Annelies lebih banyak menangis atau pingsan.

Ada tiga tokoh yang sangat patut diapreasi. Nyai Ontosoroh yang diperankan Sha Ine Febriyanti begitu larut dalam karakternya. Ia mampu menunjukkan diri sebagai pribumi yang meski diinjak-injak mampu berdiri dengan tegap. Sha Ine begitu lebur dengan karakternya dan berhasil menghidupkan gambaran Nyai Ontosoroh. Ia bukan sekadar berdiri dengan kebaya dan menamai dirinya Nyai Ontosoroh. Setiap langkahnya adalah langkah seorang Nyai Ontosoroh. Begitu pula Ayu Laksmi yang berperan sebagai istri bupati, ibu dari Minke. Suaranya begitu berwibawa. Logat Jawanya pun kental dan halus. Walau scene yang menampilkan dirinya cukup sedikit, ia mampu memberikan kesan yang baik. Begitu pula Surhoof yang diperankan Jerome Kurnia. Bahasa Belandanya sangat bagus.

Patut diketahui bahwa dalam film ini kita akan menemukan berbagai bahasa dengan logatnya masing-masing. Untuk yang satu ini, Bumi Manusia patut diacungi jempol. Hampir seluruh aktor dan aktrisnya berhasil unjuk kemampuan dalam bahasanya masing-masing. Iqbaal maupun Sha Ine tampil baik dalam Bahasa Jawa maupun Bahasa Belanda. Maiko, seorang pelacur yang diperankan Kelly Tandiono, berbahasa Jepang dengan lancar. Darsam yang diperankan Whani Darmawan pun berbahasa Madura dengan logat kental. Namun sayang dialek Melayu Kommer (Christian Sugiono) kurang mengesankan. Padahal ia memerankan karakter yang disebut pandai menulis maupun berorasi.

Kita juga patut mengacungi jempol setting lokasi sepanjang film. Hanung mampu menghidupkan Bumi Manusia sesuai dengan zamannya. Begitu pula dengan pemain figuran yang begitu banyak dengan bahasa dan logatnya masing-masing, sangat menarik. Ada sedikit dialog humor yang mampu meredakan ketegangan ketika film memasuki adegan konflik. Namun secara keseluruhan, film ini masih kurang hidup. Seharusnya film ini bisa lebih megah lagi karena ini adalah buah pikiran Pram yang brilian.

1 Comment

1 Comment

  1. DakiSMT

    September 24, 2019 at 9:16 PM

    Semoga film indonesia bisa bersaing dengan film luar yang menjamin kualitasnya

Leave a Comment

Alex Lawther and Jessica Barden in Season 1 | Netflix Alex Lawther and Jessica Barden in Season 1 | Netflix

The End of the F***ing World Season 2 Review

TV

suspiria suspiria

Rekomendasi Film Horror Bertema Sekte

Cultura Lists

ratu ilmu hitam review ratu ilmu hitam review

Ratu Ilmu Hitam Review

Film

love for sale 2 cast love for sale 2 cast

Love for Sale 2 Spoiler Review: Menyoal Masyarakat dan Pernikahan

Film

Connect
%d bloggers like this: