Connect with us
Senigma
Rachel, Jack and Ashley Too Review
Image: Netflix

TV

Black Mirror Season 5 Episode 3: Rachel, Jack and Ashley Too Review

Kehadiran Miley Cyrus sepertinya tidak dapat menutupi kualitas cerita yang buruk di episode ini.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Rachel, Jack and Ashley Too” merupakan episode terakhir dari musim kelima Black Mirror yang sepertinya akan lebih diingat sebagai episode ‘Miley Cyrus.’ Kehadiran Miley Cyrus sebagai salah satu pemeran di episode ini memang menjadi kejutan tersendiri bagi para penggemarnya. Apalagi jika melihat bahwa dalam beberapa tahun terakhir Miley Cyrus lebih fokus pada karir bernyanyi daripada berakting. Sayangnya, kehadiran bintang besar Miley Cyrus di episode ini gagal diimbangi oleh kualitas cerita yang sepadan. Episode ini bahkan bisa dibilang menjadi episode terburuk dari tiga episode yang tayang musim ini.

Cerita di episode ini mengambil dua buah prespektif. Prespektif pertama diambil dari sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah serta dua anak perempuan bernama Rachel dan Jack. Sedangkan prespektif kedua diambil dari seorang bintang musik pop bernama Ashley O. Episode ini dimulai dengan memperlihatkan kedua prespektif yang masing-masing memiliki masalahnya sendiri.

Rachel adalah anak baru di sekolahnya, sebagai remaja perempuan yang tertutup ia mengalami kesulitan untuk bergaul di lingkungan barunya. Apalagi sang ayah juga tidak mempermudah kehidupan pergaulannya karena mengendarai sebuah mobil usang berbentuk tikus yang memalukan. Hubungannya dengan Jack sang kakak juga merenggang terutama semenjak kematian ibu mereka. Hanya ada satu pelarian bagi Rachel yaitu mendengar dan menonton penyanyi idolanya Ashley O. Di sisi lain, Ashley O juga terjebak dalam sebuah dilemma dimana ia tidak bisa menjadi dirinya sendiri dan harus selalu menggunakan ‘topeng’ atau persona di depan umum. Sebetulnya kedua konflik ini memiliki pondasi yang cukup potensial tetapi kurangnya arahan serta tujuan yang jelas menjadi kegagalan utama episode ini.

Rachel, Jack and Ashley Too Review

Image: Netflix

Sejak awal karakter Rachel bisa dibilang gagal menarik simpati penonton. Salah satu faktor utama penyebab hal tersebut adalah tidak adanya fokus dari konflik utama bagi karakter Rachel. Penonton dibuat merasa bingung apakah konflik akan berfokus pada masalah keluarga atau kehidupan pergaulan di sekolah. Jika ada satu konflik utama yang sering dihadapi oleh Rachel biasanya tidak jauh dari dirinya yang menaruh jarak pada orang disekitarnya baik di rumah maupun lingkungan sekolah. Konflik remaja anti sosial yang diangkat ini disetup dengan kurang baik sehingga terkesan tidak terlalu penting. Memasuki babak kedua situasi menjadi semakin buruk terutama setelah Rachel mendapatkan sebuah robot bernama ‘Ashley Too’. ‘Ashley Too’ adalah sebuah robot yang menyimpan karakteristik dari bintang pop idola Ashley. Kemunculan ‘Ashley Too’ ini semakin membuat Rachel jauh dari dunia nyata dan keluarganya.

Karakter Jack, kakak perempuan dari Rachel bisa dibilang satu-satunya karakter yang bertindak atau beraksi secara realistis. Jack menjadi satu-satunya karakter yang melihat bagaimana ‘Ashley Too’ mempengaruhi kehidupan Rachel secara negatif. Lewat karakter Jack penonton juga mendapatkan sedikit informasi lebih mengenai masa lalu serta kondisi keluarga mereka. Sayangnya karakter Jack terkesan dikesampingkan dari jalan cerita utama.

Karakter Ashley menjadi gambaran dari kehidupan para selebriti yang terlihat sempurna di hadapan publik tetapi menyimpan rahasia kelam dibaliknya. Ashley merasa terkurung terhadap persona yang ia bangun dan haus akan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri. Konflik yang diperlihatkan dari prespektif karakter Ashley bisa dibilang cukup relatable; Untuk apa memiliki kesuksesan luar biasa tetapi tidak memiliki sebuah kebebasan? Penghadang utama kebebasan Ashley tidak lain adalah Catherine bibinya sendiri yang sekaligus menjadi manager pribadinya. Seiring berjalannya waktu penonton diperlihatkan obsesi Catherine untuk menjaga persona Ashley atau menumpang pada kesuksesannya bahkan berusaha mengontrolnya dengan obat-obatan. Ashley yang berusaha memberontak akhirnya dilumpuhkan oleh Catherine yang menjadikannya sebagai sebuah ‘mesin’ penghasil lagu.

Berita bahwa Ashley jatuh kedalam koma tersebar luas dan sampai pada Rachel dan Jack. ‘Ashley Too’ yang tidak sengaja mendengar berita tersebut tiba-tiba mengalami kerusakan. Setelah melakukan kalibrasi untuk membetulkan ‘Ashley Too’, Jack tidak sengaja melepaskan gembok yang mengunci karakteristik Ashley sesungguhnya. ‘Ashley Too’ yang sebelumnya berbicara secara manis berubah menjadi liar seperti karakter Ashley yang asli. ‘Ashley Too’ berhasil membujuk Jack dan Rachel untuk membantu Ashley yang asli. Petualangan ketiganya untuk menyelamatkan Ashley yang asli menjadi plot utama pada episode ketiga ini. Munculnya plot utama hampir pada babak ketiga ini sebetulnya terbilang cukup terlambat.

Mengangkat topik mengenai kehidupan selebriti sepertinya tidak begitu memberikan dampak emosional kepada penonton. Masalah tersebut cenderung lebih eksklusif bagi kalangan tertentu dan terasa tidak relatable. Pertemuan antara Ashley, Rachel dan Jack juga terasa kurang relevan dan dipaksakan. Peran Rachel dan Jack pada cerita terasa tidak eksklusif dan rasanya bisa digantikan oleh karakter atau fans Ashley mana pun. Melihat akhir dari babak ketiga, cerita pada babak pertama dan kedua terutama dari prespektif Rachel dan Jack terasa tidak begitu penting. Ada banyak adegan yang rasanya ditaruh hanya untuk memanjangkan durasi dan tidak ada tujuannya. Obsesi terhadap tikus yang diperlihatkan dari prespektif sang ayah maupun usaha Rachel dalam mengikuti talent show tidak memiliki konklusi dan seakan terpisah dari keutuhan plot episode ini. Kurangnya fokus arah cerita serta konflik utama menjadi penyebab utama kegagalan episode ini.

Sebagai sebuah serial anthology sudah menjadi hal yang biasa bahwa ada satu atau dua episode yang tidak mencapai ekspektasi penonton. Sayangnya episode yang dibintangi Miley Cyrus ini gagal memberikan kesan serta impresi yang baik bagi penonton. Cerita episode ketiga ini terasa berantakan dan dapat dengan mudah dilupakan. Mungkin episode ini hanya akan dikenang tidak lebih dari episode ‘Miley Cyrus’. Musim kelima ini sepertinya mulai menunjukan batas dari kreatifitas Charlie Brooks yang menulis hampir seluruh cerita di serial ini. Tidak semulus musim sebelumnya, musim kelima ini ditutup dengan episode yang bisa dibilang sangat mengecewakan.

Season 5 Reviews

Episode 1 – Striking Vipers
Episode 2 – The Smithereens

Click to comment

Leave a Comment

Gerald’s Game (2017) Gerald’s Game (2017)

10 Rekomendasi Film Adaptasi Stephen King

Cultura Lists

Zombieland 2009 Zombieland 2009

Zombieland Review: Film Zombie Komedi Terbaik yang Pernah Ada

Film

five feet apart review five feet apart review

Five Feet Apart Review: Kisah Cinta Terpaut Jarak 5 Kaki

Film

Fight Club (1999) Fight Club (1999)

15 Film Tentang Kesehatan Mental

Cultura Lists

Connect