Connect with us
Senigma
perkembangan podcast
Photo by Gritte on Unsplash

Culture

Bisnis Podcast yang Makin Laris

Spotify mengumumkan audiens podcast di platformnya bertambah dua kali lipat sejak awal tahun.

Spotify tak hanya merasa senang karena tahun ini mulai menangguk profitnya sebagai platform musik streaming. Ia juga menunjukkan tanda-tanda kesuksesan di podcast. Sejak awal tahun hingga bulan ini penikmat podcast di Spotify meningkat dua kali lipat. Pengguna premiumnya juga naik sebesar 9% sementara pengguna aktif bulanannya naik 7%. Tak hanya itu, Spotify juga berani melakukan akuisisi terhadap dua platform podcast yaitu Gimlet Media dan Parcast. Akuisisi juga dilakukan pada Anchor, sebuah platform penyedia tools untuk memproduksi podcast. Terakhir, Spotify melakukan kerja sama jangka panjang dengan platform podcast dari grup perusahaan Higher Ground Company.

Mengapa podcast begitu laris? Bukankah podcast sama saja dengan radio streaming? Sebenarnya booming dari podcast sejalan dengan tren dari penyedia layanan streaming layaknya Netlix maupun Amazon Prime. Kita sebagai pelanggan memiliki keleluasaan dalam memilih konten yang ingin dinikmati. Kontennya pun beragam dan dapat didengar kapan saja, bukan berdasarkan jam tayang tertentu. Layaknya Netflix yang membuat kita puas dalam ber-binge watching, podcast membuat telinga kita mengalami eargasm dalam mendengar konten berkualitas.

Radio pada umumnya menawarkan dua program utama yaitu musik dan berita. Pakem yang sudah beberapa dekade dikenal ini lama-lama menimbulkan kejenuhan bagi para pendengarnya. Kini orang lebih suka mendengar podcast. Para penyiarnya fokus pada satu genre dan akan melakukan siaran yang umumnya tak lebih dari satu jam. Kita mendapat pandangan baru dan tentu saja segar dari suatu topik yang dikemas tidak bertele-tele tetapi juga menarik untuk dinikmati. Berbeda dengan menonton televisi yang mengandalkan indera penglihatan dan pendengaran maka untuk menikmati podcast kita hanya butuh telinga.

Pada daftar 10 besar podcast dengan pendapatan tertinggi di dunia, genrenya terlihat sangat beragam. Mulai dari games, cerita horor, politik, analisis media, kriminal, hingga komedi. Di Indonesia pun konten podcast yang ditawarkan cukup beragam. Ada yang mengangkat isu lingkungan, seksualitas, hubungan percintaan, bisnis, hingga dunia kerja. Kini pengamat politik pun ikut turun dan mulai memproduksi podcastnya sendiri.

Sebenarnya, semanis apa bisnis dari podcast itu sendiri? Chapo Trap House, sebuah podcast bergenre politik, dilaporkan memiliki pendapatan hingga 91.300 dolar per bulan. Jumlah yang menggiurkan! Salah satu strategi bisnis mereka adalah menggunakan patreon dengan biaya lima dolar per bulan. Patreon sendiri sudah mulai banyak dijalankan oleh komikus di Indonesia, bukan podcaster. Podcaster juga bisa mendapatkan uang dari sponsor, donasi penggemar, iklan, hingga crowfunding. Seorang podcaster yang populer mampu mendapatkan 25 hingga 40 dolar per 1000 pendengar.

Salah satu cara mendapatkan sponsor adalah memanfaatkan jaringan. Para podcaster banyak menggunakan Listen Notes sebagai sebuah jaringan untuk menemukan sponsor yang cocok. Sponsor tak hanya melihat dari jumlah pendengar saja tetapi juga jumlah sebuah siaran diunduh. Layaknya radio, podcaster dapat mematok harga adlibs per 30 detik atau 60 detik. Beberapa podcaster juga mendapatkan keuntung dari menjual tiket promo. Contohnya para pendengar dapat menukar kode promo yang mereka dapatkan dari sebuah siaran podcast untuk mendapat diskon di tempat hiburan.

Seperti juga banyak dari influencer di media sosial yang kemudian menjual jasa atau buku yang ia tulis, podcaster pun demikian. Beberapa podcaster mendapatkan penghasilan dari mengiklanan sendiri produk maupun jasa yang ia buat. Ia juga dapat menawarkan semacam meet and greet sehingga pendengar dapat melihatnya langsung ketika podcaster berbicara. Persis seperti menonton seminar atau kuliah umum. Contohnya adalah Welcome To Night Vale yang berhasil menjual habis 800 tiket seharga masing-masing 30 dolar untuk seminarnya.

Click to comment

Leave a Comment

Alex Lawther and Jessica Barden in Season 1 | Netflix Alex Lawther and Jessica Barden in Season 1 | Netflix

The End of the F***ing World Season 2 Review

TV

The End of the F***ing World Season 2 The End of the F***ing World Season 2

Trailer Terbaru The End of the F***ing World Season 2

Entertainment

In The Tall Grass Review In The Tall Grass Review

In The Tall Grass Review: Film Horor Menegangkan Tanpa Esensi

Film

criminal germany netflix review criminal germany netflix review

Criminal: Germany Review

TV

Connect