Connect with us
cuci tangan
Photo by cottonbro from Pexels

Lifestyle

Bagaimana Sejarah Manusia dalam Menyadari Pentingnya Cuci Tangan?

Sebelum 1847, tidak ada yang tahu mencuci tangan bisa menyelamatkan nyawa seseorang.

Kematian ibu saat kehamilan atau persalinan masih tergolong tinggi. Menurut WHO, setiap harinya 810 perempuan meninggal dunia di tahun 2017. Sebagian besar kematian ini bisa dihindari. Sebanyak 94%-nya terjadi di negara dengan pendapatan menengah ke bawah. Penyebabnya beragam mulai dari pendarahan, infeksi, tekanan darah tinggi, dan lain sebagainya. Salah satu penyebab kematian pada ibu yang melahirkan disebut sebagai infeksi postpartum. Beberapa abad lalu, kondisi ini disebut sebagai demam nifas.

Demam nifas adalah kondisi ketika seorang perempuan mengalami demam hingga 380 atau lebih tinggi selama 10 hari pertama setelah melahirkan. Hal ini diakibatkan karena terjadinya infeksi pada rahim setelah plasenta lepas. Selain demam, perempuan tersebut juga akan merasa kesakitan di bagian perutnya. Bila melihat angka kematian di tahun 2017 yang sudah cukup tinggi, kita bisa membayangkan bagaimana kondisinya ratusan tahun silam. Jelas angkanya lebih tinggi lagi. Apalagi dunia medis belum semaju saat ini.

Seorang dokter di Hungaria, Ignaz Semmelweis, adalah direktur di klinik bersalin Rumah Sakit Umum Wina di Austria. Ia mengamati kasus kematian para ibu yang baru melahirkan di klinik. Pada masa itu dunia medis menganggap sebuah penyakit tidak dapat dicegah kemunculannya. Kematian para ibu tersebut disimpulkan karena rumah sakit yang terlalu padat atau ventilasi udara yang buruk. Ignaz tidak setuju pada hal tersebut dan mencari tahu.

Di masa itu, ahli bedah tidak merasa perlu untuk mencuci atau membersihkan tangannya setelah memeriksa dari satu pasien ke pasien lainnya. Dokter dan mahasiswa kedokteran pada masa tersebut umumnya menangani kelahiran seseorang setelah sebelumnya melakukan pembedahan mayat. Pembedahan mayat ini tentu saja dilakukan untuk kemajuan dunia medis. Namun sayangnya mereka tidak menyadari bahwa mereka bisa saja membawa bakteri atau virus sehingga membuat pasien yang sehat menjadi sakit.

Ignaz yang menyadari hal ini lalu mendorong para mahasiswa kedokteran untuk mencuci tangan mereka sebelum membantu persalinan. Ternyata pemikirannya membuahkan hasil. Angka kematian turun drastis dari 18.27% hingga hanya menjadi 1.27%. Juniornya di rumah sakit pun mengakui pemikiran Ignaz dan mendukungnya. Sayangnya atasan Ignaz mengkritisi pemikiran tersebut dan masih tidak menganggap pentingnya mencuci tangan.

Ia lalu mencoba untuk melamar pekerjaan sebagai dosen di sekolah kebidanan tapi ditolak. Pada kesempatan lain, Ignaz melamar dan diterima. Namun ia terpaksa tidak mengambil lowongan pekerjaan tersebut karena ada batasan-batasan yang membuatnya merasa tidak leluasa. Akhirnya Ignaz pun pulang kampung ke Hungaria. Ignaz bekerja di Rumah Sakit Rochus dan berhasil menurunkan angka kematian pada ibu yang melahirkan di sana.

Idenya mengenai pentingnya mencuci tangan dapat diterima di Hungaria. Sementara idenya tetap ditolak di Austria. Pada tahun 1861 Ignaz menulis jurnal mengenai demam nifas dan mengirimkannya ke berbagai negara. Namun reaksi komunitas medis beraneka ragam. Banyak dokter lain yang mengkritisi pemikirannya. Ignaz bersikukuh menjelaskan kepada sebanyak mungkin orang mengenai pentingnya mencuci tangan. Sayangnya penolakan semakin besar.

Penolakan demi penolakan membuat Ignaz frustasi hingga menjadi sakit jiwa. Ignaz diduga menderita Alzheimer yang ketika itu masih belum banyak dipahami. Ia pun menghembuskan napas terakhirnya di sana karena luka di tangannya yang membuatnya mengalami keracunan darah. Setelah ia meninggal akhirnya komunitas medis menyadari kebenaran dari pemikirannya. Inilah yang menjadi alasan bila kita melihat botol antiseptik yang menempel di tembok bangsal rumah sakit saat ini. Pemikiran Ignaz mendorong tenaga medis untuk selalu membersihkan tangannya sebelum merawat pasien.

Click to comment

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect