Connect with us
Hikmah Pandemi Corona

Current Issue

Apa yang Bisa Kita Petik dari Sebuah Pandemi?

Selalu ada hikmah dari tiap masalah.

Apa yang terjadi di seluruh dunia pada saat ini bukanlah suatu hal baru. Wabah telah ada bahkan sejak ribuan tahun sebelum masehi. Namun sayangnya kita kurang belajar dari sejarah yang terus berulang. Hidup adalah soal ketidakpastian apalagi dengan adanya pemanasan global. Para ahli menduga di masa depan kita akan menghadapi lebih banyak masalah. Virus dan bakteri yang terkubur di bawah lapisan tanah yang membeku dapat muncul kembali saat mencair.

Kasus pertama terjadi di Inner Mongolia, sebuah wilayah otonomi di bawah pemerintah China. Seorang pekerja tambang berusia 55 tahun yang memakan kelinci liar terinfeksi penyakit Pes. Wabah Pes pernah terjadi dalam sejarah yang lebih dikenal sebagai The Black Death di Benua Eropa pada 1347. Namun bila ditarik ke masa yang lebih lampau, wabah ini telah ada di dunia sejak 3000 SM. Wabah tersebut tak hanya terjadi di Eropa tetapi juga daratan Asia.

Baca Juga: Wabah Mematikan di Dunia dari Masa ke Masa: Influenza hingga Corona

Kasus kedua adalah kematian seorang anak lelaki berusia 12 tahun akibat anthrax di Siberia pada 2016. Diduga, bakteri yang menyebabkan anthrax berasal dari bangkai rusa yang mati 75 tahun lalu. Lapisan tanah yang mencair akibat pemanasan global membuat bakteri yang terperangkap berhasil lepas. Bakteri tersebut menginfeksi ribuan rusa lainnya dan membuat belasan manusia menjadi sakit.

Katherine Hayhoe, seorang ilmuwan iklim dari Universitas Teknologi Texas, mengungkapkan pemikiran menarik. Iklim dan penyakit adalah dua hal tak terpisahkan. Contohnya penyakit Zika yang disebarkan oleh nyamuk. Pemanasan global membuat jangkauan geografis hewan meluas. Artinya penyakit yang dibawa oleh hewan tersebut pun akan ikut serta. Dari sini kita dapat memetik beberapa kesimpulan.

Teori Konspirasi Tidak Terbukti

Sejak Covid-19 menjadi pandemi, ada banyak sekali teori konspirasi yang menyebar. Misalnya dugaan bahwa virus ini dibuat oleh sebuah laboratorium di China. Tentu saja bila alasannya adalah senjata biologis, mengapa China sendiri harus menyusahkan dirinya akibat sebuah virus? Kenyataan bahwa keberadaan suatu virus dapat dijelaskan oleh sains mematahkan teori konspirasi ini.

Teori konspirasi yang muncul berikutnya adalah virus ini dibuat oleh pemerintah Amerika untuk menghancurkan China dan Iran. Faktanya, saat ini episentrum atau pusat dari pandemi adalah Amerika. Per 28 Maret 2020 pukul satu pagi, Amerika memiliki 92.932 kasus Covid-19. Amerika melampaui kasus di China maupun Iran yang “hanya” membukukan 32.332 kasus. Dibanding membaca teori konspirasi, kita lebih baik bersandar pada sains.

Pentingnya Memiliki Dana Darurat

Menurut Budi Raharjo, seorang financial planner, idealnya kita memiliki dana darurat yang dapat mencukupi kebutuhan selama 3-6 bulan ke depan. Walau terasa sulit mengumpulkannya, hal ini bisa kita lakukan perlahan-perlahan. Bila ingin mengumpulkan uang dengan metode konvensional, kita dapat menggunakan metode amplop. Saat mendapat gaji uang harus langsung dipisahkan berdasarkan pos pengeluarannya masing-masing. Contohnya ada amplop untuk belanja bulanan, cicilan rumah, dan biaya pendidikan anak.

Metode kedua adalah memiliki beberapa rekening yang terpisah. Alasannya bila disimpan dalam satu rekening saja, uang yang diperuntukkan untuk suatu hal dapat terpakai untuk hal lain. Misalnya uang yang dipakai untuk membayar asuransi kesehatan bisa saja terpakai untuk hal konsumtif. Namun pemisahan ini tidak akan berguna bila kita tidak mampu disiplin dalam menggunakan uang. Sayangnya kita seringkali tidak memikirkan bahwa pandemi adalah salah satu risiko keuangan.

Disiplin untuk #DiRumahAja

Walaupun social—atau physical distancing—mengizinkan kita untuk berbelanja kebutuhan makan di luar rumah, sebisa mungkin kita tidak melakukannya. Dengan keluar rumah kita hanya meningkatkan kemungkinan terpapar virus. Kita bisa memanfaatkan teknologi dengan berbelanja online. Contohnya adalah Pasar Waru di Jakarta Utara yang memberikan nomor kontak para pedagang. Kita bisa memesan kebutuhan langsung. Barangnya akan diantar sesuai jam operasional pasar.

Ada beberapa pilihan lain untuk berbelanja seperti Sayur Box, Panen Abnormal, Brambang, Allfresh, dan Happy Fresh. Panen Abnormal termasuk memiliki konsep menarik karena menjual buah dan sayur yang penampilannya tidak cantik. Buah dan sayur ini tidak masuk ke supermarket karena dianggap kurang memenuhi standar estetika. Padahal kualitasnya tetap baik. Di sini kita bisa mendukung petani lokal agar buah dan sayur yang dipanen tetap laku meski kurang cantik.

Kalau ingin berolahraga, kita bisa memilih gerakan yang dilakukan di dalam rumah. Misalnya dengan senam aerobik, yoga, pilates, atau angkat beban. Kita juga dapat menggunakan peralatan rumah tangga secara kreatif untuk membantu berolahraga. Namun kita tetap butuh asupan sinar matahari. Berjemur di teras rumah akan membantu menjaga kesehatan tubuh.

Baca Juga: Menjaga Kewarasan Saat Harus Di Rumah Aja

Tidak Melakukan Panic Buying

Stok makanan, minuman, dan kebutuhan pokok lainnya akan tercukupi untuk semua orang asal kita tidak menimbun. Hindari panic buying. Beli sesuai kebutuhan. Belum tentu semua yang kita beli dalam jumlah banyak itu dapat habis. Bisa saja makanan tersebut kadaluarsa atau busuk karena terlalu lama disimpan. Kita juga dituntut kreatif untuk dapat memasak makanan dengan bahan terbatas tapi tetap enak dan sehat.

Makan makanan instan pun bukan dosa besar. Tak perlu melabeli diri sedang makan makanan sampah atau tidak sehat. Selain itu bila kita membeli atau memasak makanan dalam jumlah berlebihan, kita dapat meningkatkan jumlah sampah. Padahal sampah yang menumpuk dapat merusak alam dan memperburuk pemanasan global.

Mendukung Bisnis Lokal

Pandemi tak hanya memengaruhi kesehatan fisik dan mental kita tapi juga perekonomian negara. Dengan mendukung usaha kecil dan menengah di sekitar kita, maka kita membantu negara tidak kolaps. Contohnya dengan memesan makanan secara delivery melalui aplikasi ojek online. Jangan lupa juga untuk berinisiatif memberikan bantuan baik berupa uang atau makanan kepada mereka. Kita pun bisa membeli makanan dari warung-warung kecil di sekitar tempat tinggal.

Kita bisa melakukannya dengan membuat jadwal sekitar 2-3 kali perminggu. Jangan memaksakan diri untuk membeli bila hal tersebut dapat membuat kantong bolong. Selalu rencanakan pengeluaran dengan baik dan hindari pembelian di luar budget. Rajin mencari diskon juga akan sangat membantu. Walaupun tidak keluar rumah, pengeluaran harus tetap dicatat baik itu masak sendiri atau beli makanan secara delivery.

Mengurangi Belanja Konsumtif

Merasa frustasi berada di rumah dan menjadi terdorong konsumtif? Tiap hari kurir antar paket datang ke pagar rumah? Hati-hati bila di rumah saja malah membuat kita lebih boros. Tetap strict pada budget yang telah dibuat. Kurangi belanja pakaian, makeup, mainan, games, dekorasi rumah, dan produk-produk konsumtif lainnya. Masa pandemi tidak dapat diprediksi kapan akan berakhir. Setiap rupiah yang kita miliki akan sangat berarti.

Kalau ingin berbelanja, buat dulu beberapa kategori. Pertama, apakah benda yang dibeli tersebut dapat dipakai berulang kali? Kedua, apakah masih bernilai ekonomi bila dijual kembali? Ketiga, apaah kita benar-benar menginginkannya dan tidak akan menyesali uang yang keluar? Keempat, apakah ada hal lain yang lebih kita perlukan dan seharusnya kita beli? Kelima, pastikan pembelian benda tersebut tidak memengaruhi pengeluaran rutin kita seperti bayar listrik atau air.

Mengurangi Konsumsi Berita

Cemas, frustasi, bahkan tidak bisa tidur akan sangat wajar bila dialami selama pandemi. Saatnya kita mengontrol diri agar tidak merasa lebih buruk lagi. Selain menggunakan layanan psikologi atau psikiater jarak jauh, kita juga dapat puasa membaca berita. Misalnya jadwalkan diri hanya membaca berita di sore hari yaitu pukul tiga hingga lima sore. Kita juga dapat membatasi penggunaan media sosial. Kesehatan mental harus tetap dijaga.

Baca Juga: FAQ Corona: Tanya Jawab Seputar COVID-19

1 Comment

1 Comment

  1. Ofy

    April 2, 2020 at 11:28 AM

    Apa hubungan lockdown dengan covid19

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect
%d bloggers like this: