Connect with us
Senigma
Aladdin Review Indonesia
Aladdin (Image: DIsney)

Film

Aladdin Review: Semangat Pemberdayaan dan Keberagaman

Disney mengklaim ini adalah salah satu proyek yang paling beragam. Namun ada satu lagi isu yang muncul: pemberdayaan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Sebuah live action remake produksi Disney rilis di Indonesia. Aladdin muncul dalam genre musikal fantasi. Sambutan penggemar nampaknya cukup baik karena penjualan tiket presale dan ramainya ruang bioskop. Penikmatnya juga terlihat dari beragam kalangan usia. Disney adalah salah satu konglomerasi media yang karya-karyanya sangat familiar di Indonesia maupun seluruh dunia. Banyak yang sudah menantikan rangkaian film remake Disney sejak kesuksesan besar Beauty and The Beast (2017). Lalu, bagaimana pesona Aladdin di layar lebar?

Aladdin (Mena Massoud) adalah seorang pemuda yatim piatu dan miskin yang hidup bersama monyet kesayangannya, Abu. Suatu hari ia menolong seorang perempuan yang dituduh mencuri roti. Perempuan itu mengaku bernama Dalia (Nasim Pedrad) dan bekerja sebagai pelayan tuan putri di Istana Agrabah. Sebenarnya ia adalah Putri Jasmine (Naomi Scott) yang menyamar menjadi rakyat biasa lalu menyelinap keluar istana. Ia sangat ingin menyejahterakan rakyatnya dan mewarisi tahta ayahnya sebagai seorang sultan. Namun kultur membuat langkah Putri Jasmine terhenti. Sang putri harus mencari suami.

Aladdin yang sangat ingin mempersunting Putri Jasmine menyadari bahwa ia tak bisa melakukannya bila tak menjadi seorang pangeran. Aladdin dimanfaatkan oleh Jafar (Marwan Kenzari) untuk mencuri lampu ajaib dengan iming-iming akan dibantu mendapatkan sang putri. Namun kelicikan Jafar justru membuat lampu ajaib berpindah ke tangan Aladdin. Itulah kali pertama Aladdin berjumpa dan kemudian berteman akrab dengan permadani terbang dan Genie (Will Smith). Dimulailah perjuangan Aladdin dengan bantuan Abu, permadani terbang, dan Genie dalam mendapatkan hati Putri Jasmine.

Meski plot ceritanya kurang lebih sama dengan kisah mengenai Aladdin yang kita kenal, sebenarnya ada perubahan yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Aladdin live action remake ini tak hanya lebih menonjolkan nuansa komedi tetapi juga benar-benar total dari sisi musikal. Pertunjukan musikalnya tak terasa kurang atau berlebihan. Takarannya pas. Semua berpadu menjadi bumbu penyedap yang membuat Aladdin lebih segar dan kaya cerita.

Aladdin Review Indonesia

Mena Massoud as Aladdin and Will Smith as the Genie. (Image: DIsney)

Di sini, Will Smith-lah yang berjaya. Ia mencuri spotlightnya. Ia lebih bersinar dibandingkan Mena ataupun Naomi. Will Smith mampu terlihat flamboyan, lucu, malu-malu, khawatir, kecewa, sekaligus tak berdaya. Ia menampilkan karakter Genie dan membuat kita tak melihatnya sebagai seorang Will Smith di film-filmnya yang lain. Lelucon yang disampaikan oleh Genie terasa renyah, mudah dipahami, sekaligus mengocok perut. Tingkah lakunya juga komikal. Will Smith adalah paket lengkap untuk menjadi seorang Genie. Kalaupun dipertanyakan kenapa ia berkulit hitam, sebenarnya ini masih bisa diterima. Genie adalah jin sehingga ia tak perlu terikat aturan mengenai ras atau etnis manusia.

Namun Will Smith yang menonjol ini membuat Aladdin dan Putri Jasmine sedikit tenggelam. Baik Mena maupun Naomi tak cukup memberikan pesona pada masing-masing karakter yang mereka perankan. Mungkin Naomi cukup berhasil pada scene-scene musikal karena selain menjadi aktris ia juga berprofesi sebagai penyanyi. Namun itu saja tak cukup. Naomi kurang menunjukkan kharisma sebagai seorang putri dari negeri fantasi di timur tengah. Begitu juga dengan Mena. Ia tak meninggalkan kesan sehingga kita teringat meski sudah bangkit dari bangku bioskop. Tapi sebagai karakter yang menentang kultur dan ingin menunjukkan gambaran perempuan independen, Naomi sudah berhasil.

aladdin review indonesia

Aladdin & Jasmine (Image: Disney)

Langkah Disney untuk menyelipkan pesan-pesan mengenai pemberdayaan perempuan sebenarnya bukan hal baru. Hollywood sedang mendorong tema keberagaman maupun kesetaraan. Hal ini memengaruhi karya-karya yang dihasilkan. Meski demikian gambaran Putri Jasmine yang independen tidak terasa dipaksakan. Karakter Putri Jasmine juga akting Naomi cukup baik dalam mendefinisikan gambaran perempuan yang ingin menjadi sultan. Disney pun melakukannya dengan adil, Putri Jasmine tak terlihat seperti seorang ambisius yang haus kekuasaan.

Sebaliknya kita akan sedikit tergelitik ketika Aladdin bermonolog (atau berbicara dengan monyetnya si Abu) mengenai kenapa dia terus direndahkan. Ia menganggap orang-orang tak mampu melihat potensi dalam dirinya. Potensi macam apa? Sebagai pencuri ulung? Rasanya agak lucu dan membuat penonton sulit bersimpati. Tokoh Aladdin bukanlah tokoh yang membuat kita cinta atau merasa hidupnya hanya tertimpa sial. Kita mungkin malah gemas kenapa lelaki muda seusia Aladdin tak mau mencari kerja dan malah sibuk mencuri.

Dalia yang menjadi pelayan kepercayaan Putri Jasmine juga ikut mencuri perhatian walau tak secemerlang Genie. Ia lucu juga menarik. Ia membuat beberapa scene menjadi lebih hidup. Hal ini tak mengherankan karena Nasim banyak berkecimpung dalam proyek komedi. Nasim pernah menjajal kemampuan sebagai komika, melakukan celebrity impressions di Saturday Night Live, juga bermain dalam serial New Girl. Rekam jejaknya menunjukkan ia terampil di genre komedi. Bagimana dengan Jafar? Marwan mungkin cocok berperan antagonis tapi ia sama dengan Mena. Tak berkesan.

Deretan aktor maupun aktris yang digunakan oleh Disney memang menunjukkan keberagaman. Mena berdarah Mesir, Nasim berdarah Iran, dan Marwan berdarah Tunisia. Pemilihan Will Smith untuk memerankan Genie masih bisa dimaafkan walau seorang kulit hitam yang memerankan jin berwarna biru dianggap kontroversial. Sebaliknya, pemilihan Naomi sebagai Putri Jasmine benar-benar kurang berdasar. Bila memilihnya berdasarkan warna kulit dengan alasan asal jangan kulit putih, jelas Naomi tidak lolos.

Bila Disney menggambarkan Aladdin sebagai sebuah dongeng dari timur tengah, mengapa tak menggunakan aktris berdarah Arab? Setidaknya Nasim yang berdarah Iran masih cocok berperan sebagai Dalia. Naomi adalah keturungan Inggris, India, dan Guyana. India mungkin ada di Asia tapi India bukanlah Arab. Wajah Naomi pun tidak menyiratkan apapun yang berasal dari timur tengah. Memang ras adalah konstruk sosial, bukan takdir genetis. Namun setidaknya Disney bisa lebih selektif dalam memilih aktris dan konsisten terhadap plot yang mereka buat.

Disney juga dituduh melakukan browning up. Ada sekitar 100 pemeran figuran berkulit putih yang dicoklatkan kulitnya agar terlihat menyatu seperti setting di tanah Arab. Jelas ini salah. Tak mungkin Disney tidak mampu menemukan pemeran yang cocok dan memiliki darah Arab. Disney menampik hal ini dengan mengatakan mereka juga punya ratusan figuran lainnya yang memiliki layar belakang ras maupun etnis beragam.

Sebenarnya kalau kita menyelidiki lebih lanjut, Aladdin bukanlah dongeng dari Arab. Aladdin berasal dari China. Namun seorang penerjemah Prancis justru memasukkan Aladdin dalam kelompok cerita yang berasal dari Arab, bersama dengan Kisah Ali Baba dan Petualangan Sinbad. Memang dalam cerita aslinya, orang-orang dalam dongeng Aladdin memiliki nama Arab Muslim. Tetapi tidak dengan Putri Jasmine. Disney-lah yang menyematkan nama itu. Pada kisah aslinya, sang putri bernama Badroulbadour.

Mengapa Disney lalu menciptakan film yang menggambarkan Aladdin sebagai kisah dari Arab? Ini adalah bagian dari fetish negara barat terhadap segala sesuatu yang mereka pandang eksotis. Seperti pula ketika Amerika mengimpor kurma untuk ditanam di Lembah Coachella lalu membuatnya seakan-akan replika Arab. Amerika bahkan membuat Festival Kurma Internasional dan mendesain panggungnya menyerupai Baghdad.

1 Comment

1 Comment

  1. Indah Ayu

    August 21, 2019 at 2:40 AM

    Menurut saya pribadi sih pemeran Aladdin dan Jasmine sangat melekat di hati penonton, banyak sekali yg tambah mengidolakan keduanya setelah film ini tayang. Menurut saya dan juga mungkin sebagian banyak orang melihat mereka juatru bersinar, sama sekali tidak tenggelam

Leave a Comment

Ford vs Ferrari Review Ford vs Ferrari Review

Ford v Ferrari: Spoiler Review

Film

Living With Yourself Review Living With Yourself Review

Living With Yourself Review: Serial Drama Komedi Bertema Cloning

TV

Failin in Love Review Failin in Love Review

Failin in Love Review

TV

crazy love review crazy love review

Crazy Romance Review: Sajian Romansa Komedi Yang Menghibur

Film

Connect
%d bloggers like this: