Connect with us
Australia Tourism
permakultur
Pexels

Culture

Akankah Permaculture Menjadi Jawaban Krisis Global Saat Ini?

Kita akan menghadapi krisis pangan karena jumlah penduduk dan alam yang tak berkawan.

Pendapat global masih terbelah dua. Benarkah manusia yang menyebabkan pemanasan global? Bukankah alam rusak dan memperbaiki dirinya sendiri sebagai sebuah siklus alami? Opini yang tidak kompak membuat dunia belum sepakat menentukan langkah yang akan dilakukan. Namun kita tentu menyadari bumi ini semakin rusak. Oktober 2019 menjadi Oktober terpanas sepanjang sejarah. Indonesia mungkin belum pernah memiliki korban jiwa yang jatuh akibat serangan panas. Tetapi kita bisa melihat data korban jiwanya di negara lain.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Indonesia (2013) telah menjelaskan bahwa anomali cuaca sangat berpengaruh pada produksi padi dan palawija kita. Padahal nasi masih menjadi sumber kalori nomor satu bagi penduduk Indonesia. Tidak beraneka ragamnya sumber karbohidrat membuat kita begitu tergantung pada keberhasilan panen padi. Bila jumlahnya rendah, kita terpaksa melakukan impor. Padahal anomali iklim tidak hanya terjadi di Indonesia. Akan ada satu titik di mana kita tidak bisa lagi menyederhanakan masalah dengan mencari sumber makanan dari negara lain.

PBB menyebutkan bahwa di 2016 terjadi peningkatan kelaparan global yang salah satunya karena perubahan iklim. Jumlahnya mencapai 815 juta orang atau sekitar 11% populasi dunia. Jumlah ini naik sebanyak 38 juta orang dari tahun sebelumnya. Padahal jumlahnya sempat turun selama lebih dari satu dekade. 155 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting. Artinya pertumbuhan mereka terhambat yang salah satu cirinya dapat dilihat dari tinggi tubuh yang terlalu rendah. Beberapa orangtua mungkin menganggap hal ini sebagai pengaruh genetis semata padahal stunting dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembang otak anak.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia menyebutkan temperatur yang meningkat akibat fenomena El Nino pada 2015 hingga 2016 menyebabkan kekeringan, kebanjiran, dan hujan tak menentu. Wilayah yang terdampak adalah Afrika, Amerika Latin, Karibia, dan Asia Pasifik. Sebanyak 143 juta orang di 42 negara masuk ke dalam fase kedua kelaparan alias kelaparan akut. Mereka terancam jatuh ke fase ketiga yaitu krisis kelaparan. Ironisnya, 30% produksi makanan dunia berakhir di tempat sampah.

Ketika kita membeli makanan dan tidak menghabiskannya, makanan itu hanya akan berakhir di tempat pembuangan akhir. Bila saja kita membeli secukupnya dan menghibahkannya ke bagian dunia lain yang kekurangan, seharusnya tak perlu ada ancaman kelaparan. Nampaknya Korea Selatan memiliki solusi menangani masalah ini. Sampah rumah tangga di Korea dipilah secara detail. Terutama sampah sisa makanan. Orang-orang harus membuangnya di tempat sampah sentral di komplek apartemen mereka. Mereka harus membayar sekitar 10 ribu won atau 12 dolar per bulan demi sampah sisa makanan yang dibuang. Sampah itu diolah menjadi kompos.

Di Amerika, figur publik mengampanyekan Meatless Monday. Salah satu pasutri yang mengikuti program ini adalah Tom Hanks dan Rita Wilson. Mereka berkomitmen untuk tidak makan daging minimal setiap Hari Senin. Ini karena daging menjadi salah satu makanan “wajib” bagi penduduk Amerika. Satu kilogram daging sapi berdampak lingkungan lebih buruk 30 kali lipat dibanding satu kilogram tanaman pangan sebagai sumber protein. Selain itu pembukaan lahan besar-besaran untuk kegiatan peternakan telah mendorong kerusakan lingkungan karena hutan-hutan digunduli.

Mengonsumsi daging ternak setiap hari sama saja dengan berkontribusi pada kerusakan bumi lebih cepat. Inilah salah satu hal yang mendorong makin masifnya kampanye hidup vegan. Bila kita kompak mengurangi bahkan menghentikan konsumsi daging dan menggantinya dengan tanaman pangan berprotein, maka luas lahan yang dapat diselamatkan setara dengan luas Amerika, Kanada, dan China digabung menjadi satu. Namun tentu saja ini hanya bisa diaplikasikan pada orang dewasa, bukan anak-anak dan remaja yang masih di masa tumbuh kembang.

Akankah Permaculture Menjadi Jawaban Krisis Global Saat Ini?

Image: Pexels

Josep Russell Smith di tahun 1929 memperkenalkan istilah permanent agriculture alias permakultur. Namun istilah ini lebih populer sejak Bill Mollison dan David Holmgren menggaungkannya di tahun 1978. Meski definisinya beragam, bagi orang awam bisa dibilang permakultur adalah sistem pertanian berkelanjutan. Kita tidak membicarakan pertanian monokultur di mana sebuah lahan hanya ditanami padi atau jagung saja. Namun kebun tersebut haruslah beraneka ragam isinya agar berkelanjutan. Sistem pertanian yang ada saat ini dianggap dapat merusak bumi dengan adanya pestisida dan pupuk kimia. Permakultur mendorong pertanian dilakukan sealami mungkin sehingga kualitas tanah tidak menurun dan dapat terus digunakan.

Ada tiga etika utama yang dipegang dalam permakultur yaitu care for earth, care for people, dan fair share. Permakultur menekankan integrasi dan efisiensi. Bila di sistem pertanian yang kita kenal, petani membeli pupuk maka tidak dengan permakultur. Di sini petani menyediakan pupuknya sendiri dari hewan ternak yang ia pelihara. Misalnya di daerah pertanian tadah hujan maka air yang disimpan dalam kolam penampungan digunakan pula untuk memelihara ikan. Permakultur memperlakukan lahan pertanian selayaknya hutan alami sehingga apa saja tersedia di sini.

Pada sistem pertanian yang umumnya ada di Indonesia, penanaman dilakukan sekali atau dua kali sepanjang tahun. Bahkan bila memungkinkan dilakukan tiga kali. Bagi permakultur cara ini dianggap tidak efisien dan tidak terlalu baik bagi tanah. Karena itu pada lahan permakultur ada beragam jenis tanaman baik dengan waktu tanam yang berbeda-beda. Misalnya ada pohon yang bisa dimakan (edible tree) dan di bawah kanopinya kita menanam tanaman pangan lain dengan usia tanam lebih pendek. Harapannya, sepanjang tahun tanah tersebut tetap menghasilkan bahan makanan untuk kita.

Bagaimana dengan hama? Permakultur menjawabnya dengan penanaman bunga menyerupai pagar di sekeliling lahan. Tujuannya adalah mengundang beragam jenis hama baik itu serangga maupun burung untuk mengonsumsinya dan menghindari serangan terhadap tanaman pangan. Meski praktik ini menuai kritikan karena dianggap tak sepenuhnya berhasil, tentu ini adalah ide yang patut dicoba. Bisa dibilang permakultur memang menekankan alam untuk bekerja dengan sendirinya tanpa banyak diganggu gugat oleh manusia sehingga ada jargon lazy gardener. Hal ini karena ketika memutuskan menjalankan sistem permakultur, kita dituntut mendesain lahan agar segalanya tersedia di sana baik itu pengairan, pupuk, teknik menghindari hama, dan sebagainya.

Akankah Permaculture Menjadi Jawaban Krisis Global Saat Ini?

Image: Pexels

Permakultur belum sepopuler konsep pertanian lain. Begitu pula kaitannya dengan produksi secara massal, permakultur masih diragukan. Namun permakultur menekankan hubungan yang seimbang antara manusia dengan alam. Sehingga bumi dapat menyembuhkan dirinya sambil terus menyediakan sumber makanan bagi manusia. Manusia pun dilarang melakukan eksploitasi berlebihan. Tetapi tak ada yang salah bila mencoba permakultur. Bumi kita sudah semakin rusak. Harus ada yang kita lakukan agar tetap bisa tinggal lebih lama lagi. Sebenarnya masalah yang patut digarisbawahi tak hanya mendorong pertanian berkelanjutan semata tetapi juga mendorong generasi muda menjadi petani. Bila biaya pertanian terus meningkat dan hasilnya rendah karena anomali iklim ditambah tidak ada kebijakan pemerintah yang mendukung maka profesi ini bisa punah. Pada saat itulah kita akan menghadapi bencana yang sebenarnya ketika tak ada lagi yang menanam bahan makanan kita.

Click to comment

Leave a Comment

Death Doula Death Doula

Death Doula Sebagai Teman Menjelang Kematian

Lifestyle

sejarah mie sejarah mie

Bagaimana Mie Menjadi Makanan Rakyat di Benua Asia?

Culture

Food Truck yang Makin Berjaya di Asia

Culture

taco taco

Apakah Kebab Bersaudara dengan Taco?

Culture

Connect